Sekolah Wirausaha Desa — Inovasi pengolahan hasil pertanian lokal terus dikembangkan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Rahayu Jurug melalui unit usaha olahan kedelai dengan branding “Nyami’an nDeso”. Berbagai produk berbasis tempe berhasil dihadirkan sebagai upaya meningkatkan nilai tambah kedelai sekaligus memperkuat ekonomi perempuan desa.
Hal tersebut disampaikan oleh Ibu Sumarni, Ketua KWT Rahayu Jurug, dalam wawancara singkat pada 1 Januari 2026 di Unit Pengolahan Hasil Kedelai KWT Rahayu. Ia menjelaskan bahwa pengolahan kedelai tidak hanya difokuskan pada produksi tempe segar, tetapi juga dikembangkan menjadi beragam produk inovatif yang lebih variatif dan tahan lama.
“Selain tempe, kami mengolah kedelai menjadi keripik tempe, eggroll tempe, serta berbagai produk olahan lainnya agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan dapat menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Ibu Sumarni.
Seluruh produk tersebut dipasarkan dengan satu identitas bersama, yakni Nyami’an nDeso, yang mengusung konsep cita rasa khas desa, bahan baku lokal, serta proses produksi yang higienis dan berkualitas. Branding ini diharapkan mampu memperkuat daya saing produk UMKM desa sekaligus memperkenalkan olahan tempe sebagai pangan lokal yang modern dan diminati berbagai kalangan.

Melalui Unit Pengolahan Hasil Kedelai, KWT Rahayu Jurug tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga pada peningkatan kapasitas anggota, mulai dari pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran produk. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen kelompok dalam mendorong kemandirian ekonomi perempuan dan penguatan ekonomi lokal di Kalurahan Bangunharjo.
Kehadiran Nyami’an nDeso diharapkan dapat menjadi contoh pengembangan usaha berbasis potensi lokal yang berkelanjutan, sekaligus menginspirasi kelompok perempuan lainnya untuk terus berinovasi dan berdaya dari desa. (Azfa_SWD)